Masa Paleozoikum – Zaman Silur

Nama Silur diusulkan oleh Murchison pada tahun 1835. Murchison, seorang ahli geologi berkebangsaan Inggris, mengambil daerah tipe di wales bersamaan dengan daerah tipe untuk endapan Kambrium.

Pada sisi bawah, Zaman Silur berbatasan dengan Kambrium yang dicirikan oleh adanya rumpang. Selanjutnya lapisan-lapisan Silur dicirikan adanya fauna yang lebih luas bila dibandingkan dengan Kambrium.

Silur Bawah dan Silur Atas dipisahkan oleh suatu susut laut sedang di beberapa daerah oleh suatu pembentukan pegunungan dalam waktu yang singkat. Oleh sebab itu lapisan Silur Atas terletak tidak selaras bersudut dengan Silur Bawah.

Pada sisi atasnya, Sistem Silur terpisahkan dengan sistem yang lebih muda yaitu Sistem Devon oleh suatu orogenesa yang penting. Dengan demikian maka Sistem Devon terletak di atas Sistem Silur dengan suatu ketidakselarasan bersudut atau dengan suatu rumpang.

SIFAT BATUAN SILUR

Sistem Silur berkembang baik sebagai endapan darat maupun endapan laut. Endapan darat kadang-kadang bentuknya sebagai endapan fluviatil (terbentuk di sungai), kadang-kadang lakustrin (terbentuk di danau) terutama gamping air yang tidak begitu luas ataupun sebagai endapan evaporit.

Endaan laut berkembang menjadi 2 macam yaitu endapan serpih dengan fosil Graptolit dan endapan batupasir gampingan.

Endapan serpih Graptolit terutama terdiri dari serpih, lempung hitam dan sabak yang banyak mengandung fosil Graptolit dan mempunyai pelamparan yang luas.

Endapan batupasir gampingan dijumpai di tempat-tempat yang di dekatnya terdapat daerah yang terangkat. Di tempat yang lebih jauh lagi dari pantai terbentuklah batugamping dengan fosil Stromatopora, Brachiopoda, dan lain-lain, sedang fosil Graptolit kurang terawetkan dengan baik.

Telah diuraikan di atas bahwa Sistem Silur terletak tidak selaras di atas Sistem Kambrium dan terletak tidak selaras pula di bawah system yang lebih muda, yaitu SIstem Devon.

UMUR BATUAN SILUR

Sistem Silur dicirikan oleh fauna yang lebih luas bila dibandingkan dengan Kambrium. Endapan Silur diperkirakan berumur 500-400 juta tahun di mana Silurian berumur 440-400 juta tahun dan Ordovisium berumur 500-440 juta tahun.

KESAN KEHIDUPAN SELAMA ZAMAN SILUR

Banyak kelompok kehidupan baru muncul selama Zaman Silur. Salah satu di antaranya kelompok Vertebrata. Kelompok Trolobita yang mencirikan endapan Kambrium mencapai perkembangan dan kemudian punah pada Zaman Silur, sedangkan golongan Graptolit yang diketahui sudah muncul sejak Kambrium kemudian mencapai perkembangan dan punah sama sekali pada akhir Silur. Karena perkembangannya yang khas, maka mereka dapat dipergunakan untuk membagi Silur di daerah tipenya menjadi beberapa jenjang. Ternyata kemudian bahwa pembagian ini dapat pula dipergunakan di daerah yang letaknya berjauhan, antara lain di Amerika, Tiongkok, Norwegia, dan lain-lain. Hal ini disebabkan golongan tersebut hidup secara plangtonik sehingga mempunyai penyebaran yang cukup luas.

Untuk Kala Ordovisium yang merupakan Silur Bawah berturut-turut dari bawah ke atas dibagi menjadi,

  1. Jenjang Tremadocian dengan fosil Bryograptus  dan Dictyonema.
  2. Jenjang Arenigian dengan fosil Didymograptus, Phyllograptus, dan Tetragraptus.
  3. Jenjang Llanvirnian dan Llandeillian dengan fosil Dicellograptus, Nematogratus, Climacograptus, dan Glossograptus.
  4. Jenjang Ashgillian dengan fosil Dicellograptus dan Orthograptus.

Untuk kala Silurian yang merupakan Silur Atas berturut-turut dari bawah k eats dibagi menjadi jenjang seperti berikut :

  1. Jenjang Llandoverian dengan fosil Rastrites dan Monograptus turriculatus.
  2. Jenjang Wenlockian dengan fosil Monograptus priodon.
  3. Jenjang Ludlovian dan Downtonian dengan fosil Monograptus yang sederhana dan lurus.

Setelah jenjang ini punahlah graptolite-graptolit tersebut kecuali Dendroidea yang terus hidup hingga Zaman Karbon. Di samping Graptolit berkembang pula

  1. Filum Brachiopoda yang diwakili oleh Dinorthis dan Platystrophia.
  2. Filum Bryozoa diwakili oleh Constellaria.
  3. Filum Coelenterata diwakili oleh Halysites.
  4. Filum Arthropoda diwakili oleh Eurypterus lacustris yang khas untuk Silur Atas.

PELAMPARAN ENDAPAN SILUR

Endapan Silur mempunyai pelamparan yang relative luas. Dalam Geosinklin Caledonia sedimentasi yang telah dimulai pada Zaman Kambrium berlangsung terus. Di daerah Wales dan Skotlandia berkembang serpih graptolit, sedang di tepi geosinklin berkembang batugamping ataupun yang bersifat pasiran. Di samping itu pada geosinklin juga dijumpai adanya aktivitas volkanisme dengan pembentukan lava riolit, yang kadang-kadang membentik gunung api bawah laut.

Di Norwegia di atas Sekis Roros yang berumur Kambrium, diendapkan lapisan kwarsit dan batugamping yang cukup tebal dengan diiringi oleh lava bantal dan radiolarit. Di sela-selanya dijumpai bisi besi oksida.

Di Mediterania, di bagian tengah geosinklin tersebut berkembang fasies graptolite, sedang di bagian tepinya berkembang fasies gamping-pasiran. Di Maroko makin kea rah Sahara di dapatkan peralihan dari Sabak Graptolit ke fasies yang lebih pasiran dan dijumpai oolit besi yang sangat penting untuk kehidupan ekonomi.

Di atas perisai Baltik berkembang endapan epikontinen yang sangat tipis. Di tempat ini banyak dipengaruhi oleh genang laut dan susut laut. Selama ini pula sepanjang tepi laut yang dangkal terdapat laguna yang luas dan disitulah terjadi pembentukan garam batu. Kemudian diikuti pembentukan endapan air tawar yang luas dalam delta. Di dalamnya terdapat lapisan dengan fosil ikan dan Eurypterida.

Di atas lapisan Kambrium yang terdapat di Geosinklin Appalachia di Amerika Utara terjadi endapan-endapan Silur. Di bagian timur yaitu di dekat lengkungan pulau yang memisahkan Geosinklin Appalachia dengan Samudra Atlantik, terjadi perubahan fasies. Pelamparannya meliputi daerah Quebeq, New York, Vermont, New Jersey. Makin ke barat daya sifat sedimen menjadi gamping-dolomitan yang diendapkan dalam air tawar yang dangkal.

Di atas perisai Kanada terjadi genang laut yang besar, dikenal terbesar selama sejarah Geologi di Amerika. Akibat genang laut tersebut muncullah 4 buah pulau yang disebut sebagai Kubah Ozark, tanah tinggi Wiconsin Kubah Adirondak, dan lengkungan Cincinnati. Endapan epikontinen yang terjadi dicirikan oleh gamping dolomite dengan bioherm. Perkembangan berlangsung terus selama Ordovisium Tengah dan selama itu pulalah terjadi batu gamping Treton yang hamper menutup daerah Amerika Utara.

Pada Ordovisium Atas, lengkungan pulau tadi terangkat terutama dekat New York dan Pensylvania. Karena pengikisan daerah yang terangkat itu maka bahan rombakan akan terangkut ke Geosinklin Appalachia dan terbentuklah di situ endapan delta yang luas. Selama itu pula di atas perisai kondisinya masih memungkinkan terjadinya pembentukan gamping dan dolomite dengan bioherm yang cukup luas.

Ordovisium berkhir dengan orogenesa yang cukup besar, yang dikenal sebagai orogenesa Takonia sehingga menghasilkan suatu pegunungan tinggi yang dengan segera pula terkikis dan hasil kikisannya berupa batupasir yang melampar luas menutupi Perisai Kanada.

Pembentukan air terjun Niagara yang sangat terkenal di Amerika terjadi pula pada Zaman Silur. Di tempat ini dapat dilihat perkembangan endapan epikontinen selama Silur Atas. Pada alasnya terdapat endapan klastik halus dari Silur Bawah (Ordovisium)., yaitu akibat permulaan pengangkatan Geosinklin Appalachia (Orogenesa Takonia) dan pengangkutan bahan kalstik yang makin banyak sehingga menghasilkan batupasir dan lempung pasir yang termasuk kelompok Medina. Bahan-bahan tersebut sebagai bukti perombakan Pegunungan Takonia. Lama- lama hanya sedikit hasil rombakan yang terangkut dan terbentuklah batu gamping dan serpih yang termasuk dalam kelompok Clinton.

Pada waktu pegunungan telah lenyap seluruhnya akibat pengikisan dan airnya tidak keruh lagi, maka ada kesempatan untuk hidup jasad-jasad pembentuk batugamping yang kompak  yang termasuk dalam kelompok Lockport. Batugamping inilah yang menyebabkan terbentuknya air terjun tadi.

PERKEMBANGAN SILUR DI INDONESIA

Fosil tertua yang pernah ditemukan di Indonesia adalah berumur Silur dan dijumpai di Irian. Hubungan statigrafi dengan batuan yang lebih tua tidak diketahui dengan jelas. Cekungan sedimentasi di Irian ini dikenal sebagai Palung Papua dan mempunyai sifat geosinklin yang pada hakekatnya merupakan perluasan ke arah utara dari Geosinklin Tasmania yang membujur sepanjai Pantai Timur Australia mulai dari pulau Tasmania di selatan Australia sampai juga menggenangi Jasirah York di Australia Utara. Kedua cekungan yang bersifat geosinklin tersebut termasuk dalam system Pegunungan Sirkum Australia. Di palung Papua batuan yang diendapkan berumur silur atas berupa batu gamping hijau yang mengandung fosil Halysites wallichi Reed serta diketemukannya pula batu guling di sepanjang  anak Sungai Sint. Laurent yang mengalir di lereng selatan Pegunungan Jayawijaya. Di bagian barat wilayah Indonesia belum pernah ditemukan tanda-tanda adanya cekungan pada Zaman Silur yang merupakan tempat sedimentasi betuan yang berumur Silur.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s